Minggu, 02 November 2025

Selamat Jalan Bang JP

Di dunia pesantren, sanad keilmuan adalah jimat penuntun. Para santri memegangnya erat-erat agar tak tersesat di rimba penafsiran ajaran agama. Jalur berguru yang menyambung tanpa putus hingga ke sumber utama menjadi jaminan ketatnya sebuah pemahaman.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan para pemburu keadilan di ruang sidang? Apakah seorang pengacara dan pembela publik juga membutuhkan jejak sanad yang serupa?

Ragam jawaban tentu bisa berjejer. Namun bagi saya, memiliki garis silsilah keilmuan dalam dunia advokasi adalah sebuah keberuntungan yang tak ternilai. Saya beruntung pernah menimba ilmu langsung dari sosok Johnson Panjaitan—seorang advokat senior dan pembela publik yang tak pernah habis membagikan inspirasi. Di mata para juniornya, ia adalah maestro strategi advokasi. Pendekatan hukumnya kerap menembus batas kewajaran, melompati cara-cara konvensional, namun terbukti ampuh dan efektif di lapangan pertarungan.

Senin, 30 Juni 2025

Retaknya Akad Suci

Di bawah riuh kepungan gedung pencakar langit Jakarta Selatan yang berkilau, ada sebuah kontradiksi yang sunyi. Saya berdiri membayangkan hiruk-pikuk transaksi di balik meja-meja kaca bank syariah, tempat angka-angka raksasa berputar tanpa henti. Data menunjukkan aset keuangan syariah nasional kita telah membubung tinggi hingga menyentuh angka Rp 9.927 triliun, menyumbang hampir 45% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini. Angka yang megah, menenangkan, sekaligus menyilaukan. Namun, langkah kaki saya membawa ingatan pada sudut lain yang lebih dingin dan penuh ketegangan: ruang-ruang sidang di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel).

Senin, 25 November 2024

Mimpi Bertemu Almarhum Ayah

Minggu malam (24/11/2024), saya terbangun dari mimpi dengan rasa haru yang sukar dijelaskan. Dalam tidur, seolah waktu berputar mundur, membawa saya kembali ke masa-masa SMU. Saya masih ingat jelas suasana mimpi itu: saya sedang mengganggu adik bungsu saya hingga tangisnya pecah. Kekacauan kecil akibat tangisnya itu membuat Ayah naik pitam.

Ayah, dengan langkah tegas dan sorot mata yang tak pernah meleset dari ketegasan seorang ayah, mengusir saya keluar. Tidak ada teriakan atau amarah yang meledak-ledak. Hanya sebilah kain yang digenggamnya, diayunkan pelan ke tubuh saya, seolah cukup untuk menyampaikan pesan: Pergilah. Dan saya pergi.

Senin, 18 November 2024

Selamat Jalan Pengacara Bernyali di Tengah Konflik

Minggu malam (17/11/2024), suasana di Rumah Duka RSPAD terasa haru biru menyertai wajah-wajah sendu yang berkumpul. Saya bersama rekan-rekan PBHI lainnya berada di sana, di tengah kerumunan yang datang melayat, memberi penghormatan terakhir kepada seorang pengacara perempuan senior anggota PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia), yang telah banyak menorehkan jejak dalam dunia advokasi, Lamria Siagian. 

Kami memanggilnya, “Kak Lam,” sosoknya kini telah terbujur kaku, namun meninggalkan jejak keberanian yang tak akan terlupakan.

Lamria bukan pengacara biasa. Ia adalah sosok yang, bagi saya, merepresentasikan keberanian sejati dalam membela keadilan. Pada tahun 2004, saat situasi di Aceh memanas dan konflik bersenjata yang berdampak pada tragedi kemanusiaan, Lamria menunjukkan nyali yang luar biasa. Ia dan dua rekannya, pengacara anggota PBHI, memutuskan melakukan perjalanan jauh dari Jakarta ke Aceh Selatan untuk sebuah misi mulia: membela Bestari Raden, seorang aktivis lingkungan yang dituduh melakukan makar.

Senin, 11 November 2024

Ketika Netralitas Presiden Dalam Pilkada Jawa Tengah Dipertanyakan

Saya memasuki ruang kelas dengan perasaan antusias. Hari ini, saya sudah menyiapkan diskusi yang cukup menarik untuk mahasiswa. Seperti biasa, saya melihat wajah-wajah yang penuh harap dan sedikit rasa penasaran. Sebagian besar dari mereka mungkin sudah mendengar berita mengenai dukungan Presiden Prabowo Subianto kepada pasangan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin dalam Pilkada Jawa Tengah. Itulah yang akan menjadi topik diskusi hari ini.

“Baik, sebelum kita mulai materi, saya ingin tahu pendapat kalian,” kata saya sambil meletakkan buku catatan di meja. “Menurut kalian, wajar tidak, seorang presiden memberikan dukungan terbuka kepada salah satu pasangan calon dalam Pilkada?”