Selasa, 09 Agustus 2016

Belajar Menjaga Kehormatan Profesi dari Peternak Lele

Sekedar reflexi menuju 1 dekade belajar menjadi pembela...

Seminggu lalu silaturahmi ke rumah teman.. dahulu ia seorang seniman dan penyair... kini ia memilih energi seninya dilampiaskan utk menata kolam ikan lele.. dari sanalah ia hidupi dapur rumah tangganya.. saya sengaja ke rumahnya utk menebus ketidakhadiran dlm pesta nikahnya..

Obrolan hangat diawali dg mengulas rasa penasaran sy mengorek alasannya memilih menjadi peternak ikan lele.. dan bagaimana tingkat kerumitannya dlm berternak... dan sy pun terkesima dg ceritanya..

Ia pun bertutur....

"Begini bro, saat gua putuskan pilih utk berternak lele itu tidak mudah... krn byk yg bilang kalo ternak lele pasti rugi.. tapi gua gak percaya gitu aja.. gua survei itu mantan2 peternak lele, gw interview mrk mengapa mrk bisa gulung tikar.."

Silaturahmi, Rumus Nikmati Hak Atas Hidup

Bulan Agustus, merupakan bulan yg akan menggenapkan sy menikmati hak atas hidup, yg hingga hr ini diberikan Tuhan secara sempurna, alias sehat wal afiat...

Merajut silaturahmi, adalah salah satu jalan mensyukuri hak atas hidup... sehingga hak atas hidup mestinya bisa digunakan dgn kualitas dan memberi manfaat utk memajukan peradaban manusia...

Silaturahmi kemarin sore (7-8-2016) kali ini adalah dgn PMII...

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat Fakultas Syariah & Hukum UIN Jkt, merupakan organisasi ekstra kampus, yg menjadi bagian dlm sejarah hidup sy melewati masa2 mahasiswa S1..

Kamis, 24 September 2015

Selamat Jalan Maha Mentor Para Pembela

“Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan…”
“Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang…”
“Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya…” 
“Kita adalah manusia merdeka…”
“Dalam MATI-nya kita semua adalah manusia terbebas…”
(Gie)

Seorang teman senior pernah meriwayatkan suatu kisah tentang aksi di dalam ruang sidang yang dilakukan oleh seorang pembela sepuh namun masih gagah, berani dan lantang bersuara. Entah benar atau tidak kisahnya, namun kisah tersebut membuat kita belajar tentang banyak hal.

Alkisah terjadi perdebatan sengit di suatu pengadilan negeri yang sedang menggelar sidang perkara pidana. Sang jaksa penuntut umum meminta agar hakim memerintahkan agar seorang Pembela dikeluarkan dari ruang sidang karena dianggap bukan sebagai advokat yang sah, dengan alasan sang pembela tersebut turut mendirikan dan menjadi pengurus dari suatu organisasi advokat yang tidak sesuai dengan Undang-undang Advokat. 

Minggu, 06 September 2015

Menulis Tesis (Mestinya) Mudah dan Menyenangkan

Di akhir Agustus 2015 lalu, genap sudah 10 semester status saya sebagai mahasiswa pascasarjana magister hukum berakhir, setelah 'kitab' hasil buah karya penelitian (yang insyaallah) ilmiah, akhirnya diterima oleh 'para pengadil'. :)

Tentu saja senang, karena upaya untuk mengakhiri status tersebut melewati suatu perjuangan yang tak mudah. Penuh dengan banyak tantangan dan kendala. Suka dan duka juga dilewati. Kadang mesti diiringi rasa stres, kecewa, marah dan hilang harapan.

Sabtu, 05 September 2015

Mencari Panggung Politik

Peristiwa FZ dan SN (pimpinan parlemen) dalam kampanye presiden di luar negeri sulit untuk dibaca secara polos dan lurus-lurus saja. Wajar banyak orang bertanya mengenai motif atas peristiwa itu.

Hal sama mengingatkan pada kisah seorang pembela tukang sate, ketika ia heran dan bertanya, mengapa stafnya FZ begitu ngotot meneleponnya agar mau bersama-sama dengan FZ untuk menjemput 'tukang sate' pulang pada hari Senin tanggal 3 Nop 2014. Padahal Sabtunya RI 1 sudah menjamin tukang sate bakal "dipulangkan".... ;) 

Kala Pembela Mendebat Nalar Jurist

Bagi seorang pembela, berdebat dengan Jurist kadang perlu kesabaran. Kadang juga harus bersikap tegas menjaga marwah profesi pembela. 

Dalam beberapa kasus, kadang cara logika Jurist mengadili suatu perkara tak dapat diterima oleh nalar hukum. Misal dalam perkara pidana, seorang Jurist bertanya kepada saksi fakta: "Saudara saksi, apakah menurut pendapat saksi telah terjadi pelanggaran hukum dlm kegiatan pengadaan...?" 

Si pembela sontak keberatan: "interupsi yang mulia... tolong ini saksi fakta bukan saksi ahli... mohon jangan ditanyakan pendapat saksi..." 

Ketika Tergugat Kehilangan Hak Ajukan Jawaban Gugatan

Selama menekuni dunia pembela, aksi 'walk out' dari ruang sidang biasanya sering dilakukan oleh seorang pembela ketika ia membela kasus-kasus publik.

Beberapa waktu lalu, seorang pembela terpaksa harus melakukan aksi tersebut sebagai bentuk protes atas sikap Jurist mengadili dalam perkara perdata.

Protes si pembela disebabkan karena perdebatan mengenai persoalan kapan dan dalam kondisi apa seorang yang menjadi "Tergugat" kehilangan haknya utk mengajukan Jawaban Gugatan dan Gugatan Balasan (Rekonvensi).