Senin, 27 Mei 2019

Saya dan Gas Air Mata....


KPAI mengungkapkan fakta bahwa keterlibatan anak2 dlm aksi rusuh di Bawaslu pada 22 Mei 2019 lalu, disebabkan karena diarahkan oleh guru ngajinya…

Jika itu benar… Pertanyaan sy, sampai sejauhmana rasa gelisah dan khawatir pada diri sang guru ngaji ketika tahu anak didiknya berada di tengah kerusuhan massa atas arahannya…? Dimana segala resiko marabahaya sangat mungkin terjadi menimpa anak didiknya.

Apakah sang guru ngaji juga mengalami kegelisahan yang sama seperti yang sy alami di tahun 1998?

Ketika saya bersama teman-teman mengajak dan membawa 100-an massa aksi mahasiswa dari IAIN Jakarta utk ikut dalam aksi gerakan mahasiswa pada 12 November 1998 yang berujung bentrokan (chaos) di Fly Over Slipi, yang di kemudian hari dikenal dengan peristiwa “Tragedi Semanggi I”.

Jika rasa gelisah itu ada, apa kiranya yang dilakukan sang guru ngaji lakukan utk “membunuh” rasa gelisahnya? Apakah dia akan segalau dan sesibuk saya dan teman2 saya spt pada tragedi di fly over slipi itu..? Entahlah…

Minggu, 17 Maret 2019

INGIN MENJADI MEDIATOR BERSERTIFIKAT? YUK KITA SAMA-SAMA BELAJAR DISINI…

Perselisihan dan konflik di antara kepentingan sesama umat manusia, adalah sunatullah... 
Sesuatu yang tak dapat dihindarkan…

Konflik bisa terjadi dalam skala besar yang dapat merusak ketentraman kehidupan berbangsa dan bernegara…

Namun juga bisa, ia hadir pada skala kecil di level rumah tangga yang dapat mengancam keutuhan rumah tangga perkawinan…

Konflik bisa menyebabkan dampak buruk yang dialami oleh mereka yang terlibat dalam konflik, bahkan juga menyasar mereka yang tidak terlibat dalam konflik turut menjadi korban…

Tentu sangat mulia, bagi mereka yang ingin punya misi sosial ikut ambil bagian masuk ke tengah konflik dan bisa menebarkan virus perdamaian dengan menjadi juru damai bagi para pihak yang bertikai…

Modal keinginan saja, tentu belum cukup, tanpa didasari oleh wawasan dan skill yg mumpuni sebagai juru damai… Juga tak kalah penting, perlunya “stempel” dari otoritas berwenang untuk menegaskan bahwa sang “juru damai” sudah memiliki keabsahan untuk berpraktik memberikan jasanya kepada masyarakat “pencari perdamaian” di lingkungan peradilan.

***
APSI merupakan 1 dr 8 organisasi advokat yang diakui dalam Undang-undang Advokat (18/2003), mulanya hanya ingin fokus untuk mengurus anggotanya yang terdiri dari para Advokat. Namun pengalaman para anggota APSI dalam memberikan jasa advokat kepada masyarakat “pencari keadilan”, ternyata ada hal lain yang lebih penting untuk mereka cari dari sekedar mencari “keadilan”, yaitu mencari “perdamaian”.

Praktik pengalaman ini yang membuat APSI serius ingin menjadi organisasi yang mampu melahirkan para “juru damai.” Sejak 2015, setidaknya sudah 5 kali APSI mengadakan kegiatan pendidikan mediator.

Dan kini alhamdulillah, APSI sudah terakreditasi oleh MAHKAMAH AGUNG (SKMA No.16/KMA/SK/I/2019) sebagai penyelenggara pendidikan mediator TERAKREDITASI A.

Yuk tunggu apa lagi, mari kita sama-sama belajar menjadi juru damai (mediator) dalam kegiatan pendidikan MEDIATOR. Semoga niat mulia kita menjadi juru damai bagi para PENCARI PERDAMAIAN, dapat menjadi sarana ladang amal ibadah kita bekal di akhirat kelak… Amin…

NON SARJANA HUKUM & NON ADVOKAT, juga bisa ikut..

Salam

IF


Jumat, 15 Maret 2019

Peran Advokat Menyelesaikan Sengketa Melalui Mediasi di Pengadilan

Catatan ringan, 'oleh-oleh' hasil mengikuti Training Mediator Bersertifikat MA di Yogyakarta 9-12 September 2015
------------------------
Alkisah seorang advokat senior yang sudah malang melintang 30 tahun menjalankan praktik advokat, pergi berlibur ke negeri paman sam selama 3 bulan. Selama pergi berlibur, sang advokat senior menunjuk anaknya yang juga seorang advokat untuk memimpin dan mengurus kantor advokatnya agar tetap berjalan normal seperti biasa. Ketika sang advokat senior pulang berlibur, sang anak pun melaporkan segala hal yang terjadi saat ayahnya pergi berlibur.
“Ayah, ananda mau lapor… sepertinya ayah harus bangga sama ananda. Karena kasus sengketa antara perusahaan A dengan perusahaan B sudah berhasil ananda damaikan, padahal kasus itu sudah hampir 15 tahun tak kunjung selesai ayah tangani,” demikian sang anak melapor. Sang ayah kaget bukan kepalang. “Aduh nak... Karena kasus itu kamu bisa kuliah di luar negeri. Karena kasus itu ayah bisa libur 3 bulan di negeri paman sam,” kata sang ayah dengan muram.

Selasa, 09 Agustus 2016

Belajar Menjaga Kehormatan Profesi dari Peternak Lele

Sekedar reflexi menuju 1 dekade belajar menjadi pembela...

Seminggu lalu silaturahmi ke rumah teman.. dahulu ia seorang seniman dan penyair... kini ia memilih energi seninya dilampiaskan utk menata kolam ikan lele.. dari sanalah ia hidupi dapur rumah tangganya.. saya sengaja ke rumahnya utk menebus ketidakhadiran dlm pesta nikahnya..

Obrolan hangat diawali dg mengulas rasa penasaran sy mengorek alasannya memilih menjadi peternak ikan lele.. dan bagaimana tingkat kerumitannya dlm berternak... dan sy pun terkesima dg ceritanya..

Ia pun bertutur....

"Begini bro, saat gua putuskan pilih utk berternak lele itu tidak mudah... krn byk yg bilang kalo ternak lele pasti rugi.. tapi gua gak percaya gitu aja.. gua survei itu mantan2 peternak lele, gw interview mrk mengapa mrk bisa gulung tikar.."

Silaturahmi, Rumus Nikmati Hak Atas Hidup

Bulan Agustus, merupakan bulan yg akan menggenapkan sy menikmati hak atas hidup, yg hingga hr ini diberikan Tuhan secara sempurna, alias sehat wal afiat...

Merajut silaturahmi, adalah salah satu jalan mensyukuri hak atas hidup... sehingga hak atas hidup mestinya bisa digunakan dgn kualitas dan memberi manfaat utk memajukan peradaban manusia...

Silaturahmi kemarin sore (7-8-2016) kali ini adalah dgn PMII...

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat Fakultas Syariah & Hukum UIN Jkt, merupakan organisasi ekstra kampus, yg menjadi bagian dlm sejarah hidup sy melewati masa2 mahasiswa S1..

Kamis, 24 September 2015

Selamat Jalan Maha Mentor Para Pembela

“Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan…”
“Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang…”
“Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya…” 
“Kita adalah manusia merdeka…”
“Dalam MATI-nya kita semua adalah manusia terbebas…”
(Gie)

Seorang teman senior pernah meriwayatkan suatu kisah tentang aksi di dalam ruang sidang yang dilakukan oleh seorang pembela sepuh namun masih gagah, berani dan lantang bersuara. Entah benar atau tidak kisahnya, namun kisah tersebut membuat kita belajar tentang banyak hal.

Alkisah terjadi perdebatan sengit di suatu pengadilan negeri yang sedang menggelar sidang perkara pidana. Sang jaksa penuntut umum meminta agar hakim memerintahkan agar seorang Pembela dikeluarkan dari ruang sidang karena dianggap bukan sebagai advokat yang sah, dengan alasan sang pembela tersebut turut mendirikan dan menjadi pengurus dari suatu organisasi advokat yang tidak sesuai dengan Undang-undang Advokat. 

Minggu, 06 September 2015

Menulis Tesis (Mestinya) Mudah dan Menyenangkan

Di akhir Agustus 2015 lalu, genap sudah 10 semester status saya sebagai mahasiswa pascasarjana magister hukum berakhir, setelah 'kitab' hasil buah karya penelitian (yang insyaallah) ilmiah, akhirnya diterima oleh 'para pengadil'. :)

Tentu saja senang, karena upaya untuk mengakhiri status tersebut melewati suatu perjuangan yang tak mudah. Penuh dengan banyak tantangan dan kendala. Suka dan duka juga dilewati. Kadang mesti diiringi rasa stres, kecewa, marah dan hilang harapan.