Bagi masyarakat luas, John Tobing mungkin hanyalah
nama asing yang sayup-sayup terdengar, namun bagi setiap pundak mahasiswa yang
pernah merasakan perihnya gas air mata di aspal jalanan, ia adalah pencipta
kredo suci: “Darah Juang”. Lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1
Desember 1965, John tumbuh dalam keluarga PNS hakim yang kerap berpindah-pindah
kota. Cinta pertamanya pada musik dimulai secara otodidak sejak kelas 5 SD,
saat ia merengek meminta sebuah gitar dengan ikrar akan menghemat uang saku
hingga bangku kuliah. Sifat nakalnya di masa remaja membuatnya sempat tidak
lulus dari SMA Santo Thomas Yogyakarta, sebelum akhirnya menyelesaikan sekolah
di SMA Katolik Banjarmasin.
Tahun 1986, dengan niat awal menebus “dosa-dosa” masa
sekolah dan menjalani hidup biasa, John diterima di Fakultas Filsafat
Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, takdir sejarah memiliki rencana lain
untuknya. Jogja di akhir dekade 80-an sedang menggeliat. Diskusi-diskusi
mahasiswa mulai tumpah menjadi aksi jalanan. John terseret masuk ke pusaran
pergerakan setelah berteman dengan aktivis seperti Wibi Warao dan Sugeng
Bahagyo. Ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF),
terlibat dalam aksi solidaritas Waduk Kedung Ombo (1989-1991), hingga didapuk
menjadi Wakil Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).
Di tengah rasa lelah pasca-demonstrasi dan gelisah
malam hari di sebuah kontrakan sederhana di Pelem Kecut, Gejayan, yang kala itu
juga berfungsi sebagai sekretariat Keluarga Mahasiswa UGM, melodi “Darah Juang”
lahir sekitar tahun 1991-1992. Petikan gitar akustik John melahirkan nada yang
getir namun agung. Karena tidak percaya diri menulis kata-kata, John mengajak Dadang
Juliantara, mahasiswa Fakultas MIPA UGM, untuk menyusun liriknya di papan tulis
kontrakan. Lirik itu dihapus dan ditulis ulang berkali-kali. Budiman Sudjatmiko,
mahasiswa Ekonomi UGM yang juga karibnya, mengusulkan satu kata kunci penting: mengganti
kata “Tuhan” menjadi “Bunda” agar bait lagu tersebut lebih menyentuh relung
jiwa terdalam. Dari kolaborasi malam yang senyap itulah lahir bait abadi: “Bunda,
relakan darah juang kami... Padamu kami berjanji...”.
Lagu itu mulanya tidak memiliki nama tetap, hingga
dalam sebuah kongres FKMY di Muntilan, nama “Darah Juang” akhirnya disepakati
setelah diskusi yang panjang. Lagu ini adalah cerminan paradoks Indonesia yang
dipikirkan John sejak SMP: negeri yang sangat kaya akan padi terhampar dan
samudera raya, tetapi berjuta rakyatnya bersimbah luka, anak buruh tak sekolah,
dan pemuda desa tak kerja. John tak pernah membayangkan bahwa kidung
kesunyiannya kelak akan menjadi orkestra perlawanan terbesar dalam sejarah
modern Indonesia. Ia baru mengetahui pada tahun 2010 bahwa lagunya dinyanyikan
oleh puluhan ribu mahasiswa saat menduduki kubah Gedung DPR/MPR pada Mei 1998,
memaksa Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa.
Lagu itu juga mengiringi tumpahnya darah para Pahlawan
Reformasi: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan
Sie, yang gugur ditembak aparat dalam Tragedi Trisakti pada 12 Mei
1998. Di saat-saat mencekam itu, “Darah Juang” menjelma menjadi oksigen
perjuangan, penawar rasa takut di bawah moncong senjata.
Dekade berganti, rezim bertumbang, namun ketimpangan
belum juga usai. Gerakan mahasiswa pascareformasi sempat dinilai mengalami
disorientasi gerakan karena kehilangan musuh bersama. Di berbagai daerah,
seperti aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di Kota Padang pada tahun
2013-2014 yang dipelopori oleh aktivis HMI dan UKM PHP Unand,
mahasiswa berjuang secara parsial di jalanan DPRD Sumatera Barat. Namun di
setiap aksi yang meredup pasca-demonstrasi itu, “Darah Juang” tetap menjadi
lagu wajib yang dinyanyikan untuk membakar sisa-sisa semangat.
Warisan John Tobing melintasi zaman. Puluhan tahun
kemudian, atmosfer perlawanan itu kembali meledak dalam “Gerakan 17+8 Demands”
yang dimulai pada 25 Agustus 2025. Ketika ribuan demonstran muda kembali
memadati jalanan memprotes kenaikan tunjangan DPR dan krisis biaya hidup, suara
parau mereka kembali melantunkan kredo ciptaan John Tobing. Bersanding dengan
sound protes modern seperti “Kami Belum Tentu” karya Feast, hingga lagu mellow “Bodohnya
Aku” milik Lyodra yang diputar sebagai simbol kekecewaan mendalam rakyat yang
dikhianati pemerintahnya, “Darah Juang” tetap menjadi tiang penyangga moral
pergerakan.
John Tobing tidak pernah kaya dari lagu-lagunya. Ia
menciptakan lebih dari 500 lagu tanpa bisa membaca not balok, menjalani masa
tuanya dengan sangat sederhana di Kalasan, Sleman, di tengah kondisi saraf
optik matanya yang terus menurun. “Aku ini ya aktivis, pejuang.
Kalian-kalian saja yang kasih aku label pencipta lagu Darah Juang,”
selorohnya semasa hidup.
Kini, sang pemantik api telah pulang. Namun, selama
masih ada anak buruh yang tak sekolah dan pemuda desa yang tak kerja di negeri
permai ini, dawai “Darah Juang” akan terus bergetar di dalam dada kita semua.
Selamat jalan, Maestro. Perjuanganmu abadi dalam nada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar