Sabtu, 28 Februari 2026

Darah Juang: Pamitnya Sang Maestro Perlawanan

Di sudut sebuah ruang yang kini senyap, sebuah gitar tua bersandar membisu. Kayunya kusam, dimakan waktu dan rayap, namun di dalam serat-seratnya yang rapuh tersimpan getaran frekuensi yang pernah meruntuhkan pagar-pagar kekuasaan kokoh Orde Baru. Dawai-dawai baja itu tidak lagi bergetar. Sang pemilik jemari yang dulu memetiknya, Johnsony Maharsak Lumban Tobing, atau yang akrab disapa John Tobing, telah meletakkan gitarnya untuk selamanya pada Rabu malam, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik UGM, Sleman, setelah berjuang melawan serangan stroke. Kematian sang maestro seolah menjadi penanda pamitnya sebuah era perlawanan yang sunyi namun berisik di dalam dada.

Bagi masyarakat luas, John Tobing mungkin hanyalah nama asing yang sayup-sayup terdengar, namun bagi setiap pundak mahasiswa yang pernah merasakan perihnya gas air mata di aspal jalanan, ia adalah pencipta kredo suci: “Darah Juang”. Lahir di Binjai, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1965, John tumbuh dalam keluarga PNS hakim yang kerap berpindah-pindah kota. Cinta pertamanya pada musik dimulai secara otodidak sejak kelas 5 SD, saat ia merengek meminta sebuah gitar dengan ikrar akan menghemat uang saku hingga bangku kuliah. Sifat nakalnya di masa remaja membuatnya sempat tidak lulus dari SMA Santo Thomas Yogyakarta, sebelum akhirnya menyelesaikan sekolah di SMA Katolik Banjarmasin.

Tahun 1986, dengan niat awal menebus “dosa-dosa” masa sekolah dan menjalani hidup biasa, John diterima di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, takdir sejarah memiliki rencana lain untuknya. Jogja di akhir dekade 80-an sedang menggeliat. Diskusi-diskusi mahasiswa mulai tumpah menjadi aksi jalanan. John terseret masuk ke pusaran pergerakan setelah berteman dengan aktivis seperti Wibi Warao dan Sugeng Bahagyo. Ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF), terlibat dalam aksi solidaritas Waduk Kedung Ombo (1989-1991), hingga didapuk menjadi Wakil Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY).

Di tengah rasa lelah pasca-demonstrasi dan gelisah malam hari di sebuah kontrakan sederhana di Pelem Kecut, Gejayan, yang kala itu juga berfungsi sebagai sekretariat Keluarga Mahasiswa UGM, melodi “Darah Juang” lahir sekitar tahun 1991-1992. Petikan gitar akustik John melahirkan nada yang getir namun agung. Karena tidak percaya diri menulis kata-kata, John mengajak Dadang Juliantara, mahasiswa Fakultas MIPA UGM, untuk menyusun liriknya di papan tulis kontrakan. Lirik itu dihapus dan ditulis ulang berkali-kali. Budiman Sudjatmiko, mahasiswa Ekonomi UGM yang juga karibnya, mengusulkan satu kata kunci penting: mengganti kata “Tuhan” menjadi “Bunda” agar bait lagu tersebut lebih menyentuh relung jiwa terdalam. Dari kolaborasi malam yang senyap itulah lahir bait abadi: “Bunda, relakan darah juang kami... Padamu kami berjanji...”.

Lagu itu mulanya tidak memiliki nama tetap, hingga dalam sebuah kongres FKMY di Muntilan, nama “Darah Juang” akhirnya disepakati setelah diskusi yang panjang. Lagu ini adalah cerminan paradoks Indonesia yang dipikirkan John sejak SMP: negeri yang sangat kaya akan padi terhampar dan samudera raya, tetapi berjuta rakyatnya bersimbah luka, anak buruh tak sekolah, dan pemuda desa tak kerja. John tak pernah membayangkan bahwa kidung kesunyiannya kelak akan menjadi orkestra perlawanan terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Ia baru mengetahui pada tahun 2010 bahwa lagunya dinyanyikan oleh puluhan ribu mahasiswa saat menduduki kubah Gedung DPR/MPR pada Mei 1998, memaksa Soeharto lengser setelah 32 tahun berkuasa.

Lagu itu juga mengiringi tumpahnya darah para Pahlawan Reformasi: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, yang gugur ditembak aparat dalam Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Di saat-saat mencekam itu, “Darah Juang” menjelma menjadi oksigen perjuangan, penawar rasa takut di bawah moncong senjata.

Dekade berganti, rezim bertumbang, namun ketimpangan belum juga usai. Gerakan mahasiswa pascareformasi sempat dinilai mengalami disorientasi gerakan karena kehilangan musuh bersama. Di berbagai daerah, seperti aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM di Kota Padang pada tahun 2013-2014 yang dipelopori oleh aktivis HMI dan UKM PHP Unand, mahasiswa berjuang secara parsial di jalanan DPRD Sumatera Barat. Namun di setiap aksi yang meredup pasca-demonstrasi itu, “Darah Juang” tetap menjadi lagu wajib yang dinyanyikan untuk membakar sisa-sisa semangat.

Warisan John Tobing melintasi zaman. Puluhan tahun kemudian, atmosfer perlawanan itu kembali meledak dalam “Gerakan 17+8 Demands” yang dimulai pada 25 Agustus 2025. Ketika ribuan demonstran muda kembali memadati jalanan memprotes kenaikan tunjangan DPR dan krisis biaya hidup, suara parau mereka kembali melantunkan kredo ciptaan John Tobing. Bersanding dengan sound protes modern seperti “Kami Belum Tentu” karya Feast, hingga lagu mellow “Bodohnya Aku” milik Lyodra yang diputar sebagai simbol kekecewaan mendalam rakyat yang dikhianati pemerintahnya, “Darah Juang” tetap menjadi tiang penyangga moral pergerakan.

John Tobing tidak pernah kaya dari lagu-lagunya. Ia menciptakan lebih dari 500 lagu tanpa bisa membaca not balok, menjalani masa tuanya dengan sangat sederhana di Kalasan, Sleman, di tengah kondisi saraf optik matanya yang terus menurun. “Aku ini ya aktivis, pejuang. Kalian-kalian saja yang kasih aku label pencipta lagu Darah Juang,” selorohnya semasa hidup.

Kini, sang pemantik api telah pulang. Namun, selama masih ada anak buruh yang tak sekolah dan pemuda desa yang tak kerja di negeri permai ini, dawai “Darah Juang” akan terus bergetar di dalam dada kita semua. Selamat jalan, Maestro. Perjuanganmu abadi dalam nada.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar