Di bawah riuh kepungan gedung pencakar langit Jakarta
Selatan yang berkilau, ada sebuah kontradiksi yang sunyi. Saya berdiri
membayangkan hiruk-pikuk transaksi di balik meja-meja kaca bank syariah, tempat
angka-angka raksasa berputar tanpa henti. Data menunjukkan aset keuangan
syariah nasional kita telah membubung tinggi hingga menyentuh angka Rp 9.927
triliun, menyumbang hampir 45% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini.
Angka yang megah, menenangkan, sekaligus menyilaukan. Namun, langkah kaki saya
membawa ingatan pada sudut lain yang lebih dingin dan penuh ketegangan:
ruang-ruang sidang di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel).
