Tampilkan postingan dengan label Praktik Advokat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praktik Advokat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Juni 2024

Cerpen: Perjuangan Menolak Poligami di Pengadilan Agama

Dina tak pernah menyangka, pernikahannya dengan Dani yang penuh kebahagiaan akan berujung di pengadilan agama. Suaminya yang penuh kasih kini berada di sisi yang berseberangan, membawa sebuah permohonan izin poligami yang begitu menyesakkan hatinya. Dani, yang pernah berjanji setia, kini bersikeras untuk menikah lagi dengan alasan bahwa ia ingin menambah keturunan.

Setelah malam-malam panjang penuh isak tangis, Dina memutuskan untuk melawan. Ia tidak ingin diam dan menyerah. Bukan karena ia tidak ingin suaminya bahagia, melainkan karena ia merasa tidak ada alasan yang cukup kuat untuk Dani mengambil langkah poligami. Ia yakin bahwa pernikahan mereka masih dapat dipertahankan dengan baik. Dengan penuh tekad, Dina pun menunjuk seorang pengacara dari Kantor Advokat Irfan Fahmi & Rekan (IFR), untuk mendampinginya di pengadilan.

Kamis, 24 September 2015

Selamat Jalan Maha Mentor Para Pembela



Di ruang sidang yang penuh hiruk-pikuk, seorang pembela sepuh berdiri dengan tegap. Usianya tak lagi muda, rambutnya memutih, namun sorot matanya tetap tajam. Suaranya lantang dan penuh keyakinan menyeruak di antara barisan hadirin. Hari itu, ia menghadapi perdebatan sengit dengan sang jaksa penuntut umum yang berupaya mengusirnya dari sidang. Sang jaksa menuduhnya bukan advokat yang sah, hanya karena ia tergabung dalam organisasi advokat yang dianggap tidak sesuai dengan hukum.

Minggu, 06 September 2015

Kala Pembela Menantang Nalar Jurist: Kisah di Balik Ruang Sidang

Di ruang sidang yang tenang, seringkali ketegangan terselip di antara dialog formal yang mendebarkan antara Pembela dan Jurist. Di sini, sang Pembela kerap harus bermain di antara dua peran: menjadi penegak keadilan dan penjaga marwah profesi. Dalam atmosfer serius dan berdebat, ada momen di mana logika dan nurani Pembela diuji, ketika nalar Jurist seakan berlari jauh dari apa yang disebut “kewajaran hukum.”