Di sudut sebuah ruang yang kini senyap, sebuah gitar
tua bersandar membisu. Kayunya kusam, dimakan waktu dan rayap, namun di dalam
serat-seratnya yang rapuh tersimpan getaran frekuensi yang pernah meruntuhkan
pagar-pagar kekuasaan kokoh Orde Baru. Dawai-dawai baja itu tidak lagi
bergetar. Sang pemilik jemari yang dulu memetiknya, Johnsony Maharsak Lumban
Tobing, atau yang akrab disapa John Tobing, telah meletakkan
gitarnya untuk selamanya pada Rabu malam, 25 Februari 2026, pukul 20.45 WIB di
Rumah Sakit Akademik UGM, Sleman, setelah berjuang melawan serangan stroke.
Kematian sang maestro seolah menjadi penanda pamitnya sebuah era perlawanan
yang sunyi namun berisik di dalam dada.