Meski saya masih muda dan tidak terlalu terlibat dalam diskusi politik yang lebih mendalam, keberadaan di tengah massa yang berkobar dengan semangat perjuangan memberikan pengalaman yang sangat intens. Hanya beberapa hari sebelum aksi, dua kelompok mahasiswa terbesar di Jakarta—FKMsJ dan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta (FKSMJ)—berencana melakukan aksi besar pada 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Namun, kabar bahwa FKSMJ akan mencuri start dengan menggelar aksi pada 19 Mei membuat FKMsJ mengambil keputusan mendadak untuk bergerak lebih awal, yakni pada 18 Mei.
Keputusan yang cepat ini membuat massa yang hadir terbilang besar, meski persiapannya minim. Sebanyak 5000 mahasiswa dari 30 kampus berkumpul di depan gedung MPR/DPR, sebuah jumlah yang luar biasa untuk aksi yang disusun hanya semalam. Kami, mahasiswa dari IAIN Ciputat (sekarang UIN), hanya mampu mengerahkan 20-an orang, tetapi antusiasme dan semangat tidak kalah membara.
Awalnya, aksi hanya diadakan di depan gerbang gedung. Namun, dorongan massa yang kuat membuat kami berhasil masuk ke halaman gedung. Suasana semakin memanas saat massa berusaha masuk ke dalam gedung untuk menginap, tetapi niat ini terpaksa ditahan. Di depan kami, berdiri 200 tentara berseragam loreng dengan baret merah, barisan pasukan elit Angkatan Darat. Mereka berdiri tegap, membarikade laju kami menuju pintu masuk gedung. Senjata laras panjang SS-01 tak lagi tersandang di punggung mereka, tetapi dipegang erat, dengan moncong yang diarahkan langsung ke arah kami.
Saat itu, emosi mahasiswa tidak surut. Kami tetap mendesak maju. Di depan barisan, orasi terus berlanjut, menyulut semangat yang semakin tinggi. Namun tiba-tiba, terdengar bunyi yang menggetarkan nyali.
“Krak... Krak... Krak…”
Tiga kali kokangan senjata yang jelas-jelas terdengar membuat darah saya berdesir. Jantung saya berdetak cepat, wajah saya pucat. Pasukan elit di depan kami siap menembakkan 30 peluru dari setiap senjata mereka, sebuah ancaman yang nyata. Dalam sekejap, suasana yang sebelumnya penuh semangat berubah menjadi tegang. Pikiran saya melayang ke peristiwa di Lapangan Tiananmen pada 1989 di China, ketika lebih dari 1000 mahasiswa tewas dibantai oleh tentara pemerintah saat memprotes di Beijing. Saya merasakan ketakutan yang mendalam, membayangkan Tiananmen akan terulang di Jakarta pada hari itu.
Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan hari ini menjadi akhir hidupku. Aku belum menikah, belum menuntaskan hidupku.”
Namun, ketegangan itu tak berlangsung lama. Meski suasana sangat tegang, massa tetap tenang, dan insiden yang mengancam tersebut segera mereda. Kami memutuskan untuk mundur, mengakhiri aksi untuk hari itu, dan berencana kembali keesokan harinya. Keputusan untuk menginap di gedung MPR/DPR dibatalkan, menyusul kekhawatiran akan konfrontasi yang lebih besar.
Sebelum massa benar-benar mundur, muncul sosok yang tak terduga di tengah kami: Amien Rais. Niatnya untuk berorasi di hadapan massa disambut dengan penolakan. Mahasiswa yang hadir, yang tidak mempercayai elit politik, melihat Amien Rais sebagai sosok yang hanya ingin mengambil keuntungan dari situasi. Dengan sorakan dan ejekan, Amien Rais akhirnya mundur, meninggalkan gedung tanpa sempat berbicara di hadapan kami. Betapa malunya dia, seorang tokoh politik besar diperlakukan demikian, dan insiden ini diliput oleh berbagai media.
Hari itu menjadi salah satu kenangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan saya. Meski ancaman peluru di hadapan kami begitu nyata, kami bertahan, dan peristiwa yang bisa saja berubah menjadi tragedi besar berhasil dihindari. Itu adalah salah satu momen penting dalam perjalanan menuju reformasi Indonesia. Sebagai mahasiswa muda yang masih belajar memahami dinamika politik dan sosial, pengalaman ini mengajarkan saya banyak hal. Aksi damai dan keberanian untuk berbicara melawan ketidakadilan memiliki kekuatan luar biasa, namun selalu ada bahaya yang mengintai di baliknya.
Tanggal 18 Mei 1998, sembilan tahun setelah peristiwa itu, saya menulis refleksi ini, mengenang setiap detiknya dengan penuh haru. Mungkin, di masa depan, cerita ini akan menjadi dongeng tidur yang saya ceritakan kepada anak-cucu saya. Mereka perlu tahu bahwa pernah ada hari di mana mahasiswa Indonesia berdiri tegap di depan senapan, bukan untuk mencari mati, tetapi untuk memperjuangkan hidup yang lebih baik bagi bangsanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar